JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin merespons terkait langkah pemerintah yang akan mengirim ratusan pasukan perdamaian ke Lebanon. Nurul menekankan pentingnya kesiapan negara untuk memastikan perlindungan maksimal kepada prajurit tersebut.

Politikus Partai Golkar itu memahami bahwa langkah tersebut menurutnya bagian dari diplomasi nyata Indonesia di dunia internasional. Namun menurutnya negara wajib memastikan setiap prajurit yang dikirim memiliki perlindungan maksimal dan kepastian dukungan penuh dari negara.

"Jadi yang harus dijaga adalah keseimbangan antara kepentingan diplomasi internasional dan keamanan prajurit kita di lapangan," kata Nurul kepada Kompas.com, Rabu (13/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa situasi Lebanon hari ini berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Eskalasi konflik di perbatasan Israel-Lebanon yang semakin tinggi menyebabkan sejumlah pasukan penjaga perdamaian PBB beberapa kali menjadi korban serangan. "Kita mencatat ada prajurit TNI yang terluka pada 2024, dan bahkan gugurnya empat prajurit Indonesia dalam insiden di Lebanon tahun 2026 menjadi alarm serius bahwa kawasan tersebut memang berada dalam kondisi sangat berbahaya," ungkapnya.

Sebelumnya pemerintah menyebut akan mengirim 744 prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam Satgas Kontingen Garuda (Satgas Konga) untuk misi United Nations Interim Force in Libanon (UNIFIL) pada Mei 2026. Menteri Luar Negeri Sugiono berpesan agar para prajurit menyiapkan diri dan menjalankan tugas dengan baik, penuh semangat, dan ikhlas karena membawa nama Indonesia di mata dunia. "Tempat kalian ditugaskan adalah tempat yang tidak damai sama sekali dan penuh risiko. Artinya, kemampuan dan keterampilan sebagai prajurit harus disiapkan dan digunakan dengan sebaik-baiknya," kata Sugiono dalam Rapat Koordinasi Misi Pemeliharaan Perdamaian, Senin (11/5/2026), dikutip dari siaran pers.

Sumber : Kompas.com