Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko, mengajak masyarakat untuk menjadikan tantangan zaman sebagai momentum memperkuat kembali pondasi pendidikan karakter dalam keluarga. Ia menekankan bahwa kasih sayang dan kehadiran orang tua adalah kunci utama dalam membimbing tumbuh kembang anak di tengah gempuran dunia digital.

Singgih menyebutkan bahwa keluarga merupakan sekolah pertama dan utama yang paling menentukan pembentukan kepribadian anak. Baginya, hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak adalah benteng terkuat bagi generasi masa depan.

“Keluarga bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang pendidikan pertama bagi anak. Kita ingin mendorong agar setiap rumah menjadi tempat yang penuh dialog, di mana anak-anak merasa nyaman untuk bercerita dan mendapatkan arahan yang positif,” ujar Singgih, Rabu (31/12/2025).

Membangun Budaya Digital yang Sehat Terkait penggunaan gawai dan konten seperti anime atau game online, Legislator Partai Golkar ini melihat hal tersebut sebagai peluang bagi orang tua untuk masuk dan menjadi sahabat bagi anak. Menurutnya, teknologi tidak perlu dijauhi, namun perlu didampingi secara bijak.

Singgih memberikan beberapa langkah positif untuk membangun ketahanan keluarga di era modern:

  • Dialog Terbuka: Membiasakan komunikasi dua arah agar anak memahami nilai-nilai moral dengan cara yang menyenangkan.

  • Pendampingan Aktif: Hadir bersama anak saat mereka mengonsumsi konten digital untuk memberikan pemahaman mana yang layak dicontoh.

  • Manajemen Waktu: Mengatur screen time dengan bijak agar anak tetap memiliki waktu berkualitas bersama keluarga dan lingkungan sosialnya.

Momentum Evaluasi untuk Kebaikan Bersama Singgih menegaskan bahwa upaya pencegahan perilaku menyimpang pada anak paling efektif dimulai dari rumah melalui pendidikan akhlak dan pengawasan yang penuh rasa cinta.

“Ini adalah momentum bagi kita semua untuk berevaluasi. Pencegahan terbaik bukan hanya soal aturan hukum, melainkan tentang membangun kembali ketahanan keluarga dan memberikan kasih sayang yang cukup. Dengan pengawasan yang serius namun lembut terhadap konten digital, kita bisa menjaga masa depan anak-anak kita,” pungkasnya.

Pesan ini disampaikan menyusul adanya laporan mengenai perilaku anak di bawah umur yang terpengaruh konten kekerasan. Singgih berharap kesadaran kolektif tentang pentingnya literasi digital dan pendidikan karakter di rumah dapat meningkat demi menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak Indonesia.